KOMUNIKASI ORGANISASI DI ERA DIGITAL
Pengaruh Digitalisasi di Dunia Akademis dan Praktis

Pidato Pengukuhan Prof. Dr. H. Suwatno, M.Si.
sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Komunikasi Organisasi
pada Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis
Universitas Pendidikan Indonesia
7 Mei 2018

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2018

Bismillah ar-rahman ar-rahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati,
Pimpinan dan para anggota Majelis Wali Amanat
Rektor dan para wakil Rektor
Pimpinan dan para anggota komite Audit
Pimpinan dan para anggota Senat Akademik
Pimpinan dan para anggota Dewan Guru Besar
Pimpinan Fakultas, Direktur Sekolah Pascasarjana, Direktur Kampus Daerah
Ketua Departemen/Program studi, sekretaris Departemen serta para dosen
Seluruh pimpinan unit dan karyawan di Lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Pimpinan organisasi kemahasiswaan
Bapak, Ibu, Saudara/i sekalian para tamu undangan yang berbahagia.

Alhamdulillah wa syukurillah. Puja dan puji syukur sepatutnya hanya kita persembahkan kehadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim, Tuhan yang tidak pernah lupa meski sedetik untuk mencurahkan nikmat dan keberkahan kepada kita semua, Tuhan yang menulis skenario kehidupan seumpama pelangi yang penuh warna-warni, yang memberi pertolongan sekaligus ujian, yang mengangkat sekaligus menjatuhkan, yang menganugerahkan status, posisi dan jabatan sekaligus menariknya kembali.

Tidak lupa shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, para keluarga, sahabat dan umatnya yang selama ini setia mengikuti ajarannya hingga akhir zaman. Amin.

Bapak, Ibu, Saudara/i sekalian para tamu undangan yang berbahagia.
Hari ini adalah salah satu hari yang akan menjadi momentum paling bersejarah dalam hidup saya. Sejujurnya, this is like a dream, hari ini benar-benar seperti mimpi. Namun, seandainyapun hari ini hanyalah sebuah mimpi, saya tetap berbahagia dan bersujud syukur kepada Allah SWT, karena saya sudah menjadi bagian dari komunitas akademik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) selama lebih dari 30 tahun. Bagi saya, proses pengabdian sebagai seorang pendidik jauh lebih penting dari sekedar sebuah penghargaan. Saya meyakini, Tuhan akan mencatat setiap huruf, angka, kata, frase hingga kalimat-kalimat yang kita ajarkan kepada semua anak didik kita sebagai sebuah amal kebajikan. Adapun penghargaan dan pengangkatan saya sebagai guru besar saya maknai sebagai sebuah bonus dari proses pengabdian yang cukup panjang di kampus tercinta ini. Saya teringat kata-kata dari Sayyidina Ali Bin Abi Thalib: “Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) sedangkan harta terhukum. Harta itu akan berkurang jika dibelanjakan tetapi ilmu akan bertambah jika diamalkan”.

Pengangkatan guru besar ini merupakan sebuah anugerah yang tidak terhingga nilainya dari Sang Pencipta. Namun juga memberikan tanggungjawab yang lebih besar kepada saya dalam dunia ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Sebagaimana kita ketahui, bahwa posisi seorang guru besar (professor) adalah tingkatan paling paripurna dalam struktur akademik perguruan tinggi. Kalau di dunia militer pangkatnya sudah sejajar dengan Jenderal, atau kalau di dunia bela diri sudah disebut grand master, dan kalau di dunia seni sudah bisa dinamakan maestro. Namun, meskipun sudah level “maestro”, seorang professor harus tetap menginjakkan kakinya di muka bumi, tidak hanya mengawang di atas awan. Jika sekelas nabi saja diturunkan dari kaumnya sendiri agar bisa menyatu dan menyesuaikan dengan bahasa kaumnya, maka seorang professor juga perlu bisa berkomunikasi dengan berbagai segmen, baik di lingkungan akademik maupun non-akademik dalam rangka memberikan pencerahan dan mencerdaskan masyarakat.

Terlebih lagi di “zaman now”, tantangan seorang guru besar semakin tinggi. Kita harus siap menghadapi perubahan kultur belajar mahasiswa masa kini. Seorang professor tidak boleh memiliki “ego” ataupun “arogansi” keilmuan, karena saat ini orang yang lebih pintar adalah mereka yang lebih banyak membaca dan yang lebih kaya sumber referensinya. Ada jutaan bahkan milyaran ebook dan artikel yang tersebar gratis di internet, dan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi orang pintar. Dalam istilah yang lebih keren, ini adalah fenomena democratization of knowledge, atau demokratisasi pengetahuan. Setiap orang, tidak peduli gelar akademiknya, memiliki peluang yang sama untuk mengakses sumber-sumber pengetahuan yang ada. Untuk itu, seorang professor dituntut untuk lebih banyak meng-update pengetahuan dan informasi baru,

Hadirin Yang Saya Hormati,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkanlah saya menyampaikan beberapa pandangan, pemikiran dan refleksi keilmuan saya berkaitan dengan studi yang selama ini saya geluti selama menjadi bagian dari komunitas akademik di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesaia (UPI). Sejalan dengan bidang kajian utama saya dalam studi komunikasi organisasi, perkenankanlah saya untuk menyajikan isi pidato dengan tema yang bersifat kontemporer, yakni: Komunikasi Organisasi Di Era Digital; Pengaruh Digitalisasi Di Dunia Akademis dan Praktis.

Pendahuluan
Sebagai sebuah disiplin ilmu, komunikasi organisasi telah berusia lebih dari setengah abad. Berawal dari artikel W. Charles Redding yang dipublikan di jurnal The Speaker pada tahun 1937 dengan judul “Speech and Human Relations”, sejak itu komunikasi organisasi mulai dikaji secara akademis. Namun, komunikasi organisasi sebagai sebuah disiplin semakin populer sejak W. Charles Redding dan George A. Sanborn mempublikasikan kumpulan artikel mereka yang berjudul “Business and Industrial Communication: A Source Book” pada tahun 1964. Pada tahun tersebut, tema-tema mengenai komunikasi organisasi semakin dikaji secara luas. Karena jasanya, W. Charles Redding dinobatkan sebagai bapak komunikasi organisasi (Wrench, 2012: 35).

Komunikasi organisasi sesungguhnya dapat dipandang tidak hanya sebagai sebuah disiplin, namun ia juga bisa dilihat sebagai deskriptor dan sebagai fenomena. Sebagai disiplin, komunikasi organisasi secara spesifik dimasukan ke dalam sub-divisi dari area ilmu komunikasi. Sebagai deskriptor, ia berfungsi untuk menjelaskan atau menggambarkan apa yang terjadi dalam sebuah organisasi. Sementara itu ia juga dapat dilihat sebagai sebuah fenomena yang terjadi dalam organisasi (Wrench, 2012: 33-34).

Oleh karena itu, komunikasi organisasi dapat hidup di dua domain, yakni di alam akademis dan alam praktis. Kedua domain tersebut harus saling berhubungan bahkan saling mendukung satu sama lain. Perguruan Tinggi yang selama ini mengembangkan studi komunikasi organisasi secara teoritis, seharusnya dapat membangun kolaborasi dan integrasi dengan berbagai organisasi di ranah empiris, Sehingga produksi ilmu pengetahuan yang terdapat di dunia kampus bisa lebih sesuai (compatible) dengan kebutuhan dunia industri dan dunia sosial.

Sebagai seorang akademisi, saya melihat bahwa selama ini masih ada gap atau jarak pemisah antara komunikasi organisasi di ranah akademis dan di dunia praktis. Sebagai bahan refleksi konstruktif, kita perlu melontarkan otokritik terhadap diri kita sendiri, misalnya berapa banyak hasil-hasil penelitian dan studi akademis dari perguruan tinggi yang dipakai secara strategis dan praktis di dunia industri. Seberapa banyak dan sering kerjasama “B2B” (Business-to-Business) antara Perguruan Tinggi sebagai pemasok dan konsultan pengetahuan dengan perusahaan sebagai knowledge user atau pengguna pengetahuan tersebut? Seberapa kuat sinergi yang dibangun selama ini?

Refleksi ini menjadi penting mengingat pemerintah melalui Kemristekdikti mendorong agar perguruan tinggi semakin dapat meningkatkan perannya, tidak hanya sebagai agent of education dan agent of research, namun juga sebagai agent of technology transfer dan agent of economic development. Oleh karena itu, maka sinergi antara perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia industri harus semakin diperkuat. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat memerankan fungsinya secara lebih progresif dan transformatif.

Jika kita berbicara mengenai bidang komunikasi organisasi dalam dunia industri, sesungguhnya kita dihadapkan pada sebuah peluang besar jangka panjang. Data BPS menunjukkan bahwa saat ini perkembangan jumlah industri di Indonesia semakin agresif. Berdasarkan data Sensus Ekonomi terbaru, hingga tahun 2016 Indonesia telah memiliki 447.352 perusahaan dengan skala menengah-besar (BPS, 2016). Jumlah tersebut baru berupa organisasi bisnis yang kemungkinan besar telah menerapkan manajemen organisasi modern. Belum lagi jika ditambah dengan tipe organisasi lainnya, dari mulai organisasi pemerintah, BUMN, organisasi sosial, institusi pendidikan dan sebagainya.

Tabel 1: Jumlah Perusahaan menurut Kategori Lapangan Usaha
dan Skala Usaha Tahun 2016

Sumber: BPS

Semua organisasi tersebut memerlukan kontribusi dari komunikasi organisasi untuk mendukung kesuksesan dalam mencapai tujuan organisasi. Selain itu juga saat ini semakin banyak perusahaan yang dihadapkan pada isu-isu komunikasi yang semakin kompleks. Sebagai contoh, kita kerapkali mendengar berita tentang konflik-konflik di bidang hubungan industrial, kasus pencemaran nama baik perusahaan, kasus persaingan usaha, demonstarasi karyawan dan kasus-kasus lain baik di wilayah internal maupun eksternal organisasi.

Dalam hal ini, menurut saya komunikasi organisasi seharusnya memilki peran “engineering”, dimana ia dapat difungsikan sebagai perangkat pengetahuan yang bisa membantu organisasi dalam upaya pencegahan, pengelolaan dan penyelesaian konflik. Sehingga peran tersebut dapat mendorong peningkatan kinerja dan produktivitas organisasi. Itu artinya, komunikasi organisasi memiliki peran yang sangat besar dan penting bagi kesuksesan pembangunan bangsa ini.

Hadirin Yang Saya Muliakan,

A. Teknologi Digital Dalam Komunikasi Organisasi
Kata orang bijak, segala sesuatu di dunia ini berubah kecuali perubahan itu sendiri. Demikian pula komunikasi organisasi yang tidak tumbuh dan dipraktekkan dalam ruang kosong (growing in vacuum). Komunikasi organisasi saat ini sedang menghadapi era baru yang ditandai dengan terjadinya perubahan sangat dramatis dalam metode komunikasi. Orang menyebutnya dengan Digital Age atau Post-Industrial Age. Perkembangan yang sangat masif dalam teknologi digital ini telah menciptakan sebuah revolusi yang tidak kalah besarnya dengan yang pernah dicapai oleh Revolusi Industri pada tahun 1800an. Dalam organisasi bisnis, adaptasi Information and Communication Technology (ICT) dalam komunikasi organisasi sudah dimulai sejak tahun 1994 dimana internet dan Web 2.0 sudah dipergunakan oleh masyarakat secara masif. Jika sebelumnya cara komunikasi dalam perusahaan lebih banyak menggunakan back office dan front office, kini sudah berubah menjadi virtual office. (Hartley, 2002: 106).

Istilah Web 2.0 itu sendiri diciptakan oleh seorang konsultan IT bernama Darcy DiNucci pada tahun 1999 dan dipopulerkan oleh O’Reilly pada tahun 2004. Web 2.0 merupakan aplikasi yang memfasilitasi kolaborasi dan pertukaran informasi. Sejak Web 2.0 digunakan secara masif oleh berbagai korporasi di seluruh dunia, ia dinilai positif dalam meningkatkan pengetahuan kolaboratif yang berdampak pada customer relations dan corporate culture.

Setelah Web 2.0, dunia komunikasi kemudian dikejutkan kembali dengan adanya penemuan Web 3.0 dan terahir yang terbaru adalah Web 4.0. Web 3.0 pertama kali diciptakan oleh John Markoff dari New York Times pada tahun 2006. Gagasan dasar dari web ini adalah untuk menentukan data struktur dan menghubungkannya agar lebih efektif dalam melakukan pencarian, otomatisasi, integrasi dan digunakan kembali di berbagai aplikasi. Web 3.0 dapat menghubungkan, mengintegrasikan dan menganalisa data dengan berbagai pengaturan untuk memperoleh arus informasi baru. Ia juga mampu meningkatkan pengelolaan data, mendukung aksesibilitas internet seluler, mensimulasi kreativitas dan inovasi, mendorong faktor dari fenomena globalisasi dan membantu dalam mengatur kolaborasi di web sosial.

Selain itu, web 3.0 juga dikenal dengan sebutan web semantik, yakni web yang dapat mendemonstrasikan berbagai hal dengan pendekatan yang bisa mengerti oleh komputer. Tujuan utamanya adalah untuk membuat web mudah dibaca (readable) oleh mesin dan tidak hanya oleh manusia sebagai pemakainya. (Aghaei dkk, 2012: 5).

Tabel 2: Perbandingan Antara Web 2.0 dan Web 3.0

Web 2.0 Web 3.0
Read/Write Web Portable Personal Web
Communities Individuals
Sharing Content Consolidating Dynamic Content
Blogs Lifestream
AJAX RDF
Wikipedia, google Dbpedia, igoogle
Tagging User engagement

Sumber: Sareh Aghaei, Mohammad Ali Nematbakhsh dan Hadi Khosravi Farsani (2012).

Sementara itu, Web 4.0 adalah penemuan tercanggih di dunia teknologi komunikasi yang sering disebut sebagai Ultra-Intelligent Electronic Agent, Symbiotic Web atau Ubiquitous Web. Motif diballik Symbiotic Web tersebut adalah interaksi antara manusia dengan mesin dalam simbiosis. Dengan web ini, mesin bisa lebih pintar dalam membaca konten dan memutuskan sendiri apa yang akan dieksekusi lebih dulu untuk memuat situs web secara cepat dengan kualitas dan kinerja yang superior, serta membangun lebih banyak lagi commanding interfaces.

Web 4.0 ini disinyalir dapat mendukung terjadinya transparansi global di berbagai organisasi serta kolaborasi dengan komunitas-komunitas kunci seperti industri, politik, sosial dan komunitas lainnya. Web ini akan dapat berfungsi sebagaimana sebuah sistem operasi (operating system). Ia juga akan menjadi parallel dengan otak manusia dan meningkatkan interaksi kecerdasan. (Choudhury, 2014: 8100).

Kita tidak tahu apa lagi inovasi Web yang akan ditemukan pada masa yang akan datang. Di era digital seperti saat ini, perubahan dalam teknologi komunikasi terjadi begitu cepat, sehingga dibutuhkan kemampuan adaptif yang tinggi dari setiap organisasi. Adaptasi ini merupakan sebuah keniscayaan, karena jika organisasi memilih untuk menghindar dari pengaruh inovasi teknologi, maka organisasi tersebut akan terancam mengalami stagnasi. Sebagaimana kutipan dalam sebuah syair yang ditulis oleh seorang filsuf dan penyair besar Muhammad Iqbal: “A static condition means death, those on the move have gone ahead” (kondisi statis adalah kematian, smereka yang bergerak adalah yang terdepan).

Pengaruh teknologi komunikasi baru terhadap organisasi ini dijelaskan secara ringkas oleh Thomas E. Harris dan Mark D. Nelson daam tiga poin. Pertama, teknologi selalu memiliki dampak utama terhadap organisasi. Dalam hal ini, teknologi dipandang sebagai fondasi dari aktivitas organisasi mulai dari perlengkapan untuk produksi massal (mass production) kepada sistem pengiriman (delivery system) hingga proses digital (digital process). Kedua, saat ini kita berada di tengah-tengah perubahan masif. Di era ini, sumber-sumber informasi dari organisasi tradisional telah tergantikan oleh teknologi komunikasi tingkat tinggi (advance communication technology). Ketiga, organisasi dan individu harus berpindah dari penggunaan teknologi yang semata-mata sebagai alat untuk menjalankan aktivitas menuju pengumpulan informasi yang berkembang secara terus-menerus (Harris, 2008: 376-377).

Dengan organisasi mampu menghadapi perubahan teknologi komunikasi, diharapkan mereka semakin mudah dan cepat dalam meraih tujuannya, baik dari sisi keuntungan (profit) maupun yang berorientasi pada hubungan manusia (human communication). Hal ini sangat penting mengingat hasil penelitian dari Watson Wyatt menyebutkan bahwa organisasi-organisasi yang memiliki efektivitas tinggi (highly effective organizations) adalah mereka yang memanfaatkan web dan internet dengan rate 54,7% dibandingkan dengan alat komunikasi lainnya. (Hayase, 2009: 23).

Hadirin Yang Berbahagia,

B. Media Sosial Dalam Komunikasi Organisasi
Adaptasi media sosial adalah sebuah konsekuensi bagi proses komunikasi organisasi karena ia mampu menjangkau tipe baru dari perilaku manusia yang sebelumnya nyaris tidak mungkin dijangkau. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Burson-Marsteller Communications Group pada tahun 2010, dari sebanyak 100 perusahaan Global Fortune yang diteliti, ada 79% perusahaan global dan 86% perusahaan Amerika Serikat yang setidaknya memiliki satu platform media sosial (Facebook, Twitter, YouTube, Linkedin, atau corporate blogs). Dari 100 perusahaan Global Fortune, 65% memiliki akun twitter yang aktif, 54% memiliki fanpage Facebook, 50% memiliki channel video Youtube dan 33% memiliki corporate blog.

Saat ini, trend penggunaan media sosial oleh perusahaan-perusahaan global semakin meningkat. Mereka mengadaptasi media sosial untuk berbagai kepentingan, antara lain: customer service, marketing, internal communications, public relations, corporate social responsibility, dan lain-lain.

Apa yang dimiliki oleh media sosial sehingga mampu memberikan manfaat dan keuntungan bagi banyak perusahaan? Jeffrey W. Treem dan Paul M. Leonardi dalam studinya menemukan empat kemampuan atau kelayakan yang dimiliki oleh media sosial, yakni: visibilitas (visibility), ketekunan (persistence), kemampuan edit (editability) dan asosiasi (association). (Treem, 2012: 143-189).

Dalam hal ini, media sosial dikatakan visible karena memungkinkan para penggunanya untuk memperoleh informasi secara mudah (effortless).Sementara itu, media sosial dikatakan persistent karena ia tetap mudah diakses dalam wujudnya yang orisinil setelah penggunanya menyelesaikan presentasinya. Dengan kata lain, persistence berarti “reviewability”.

Media sosial dikatakan editable karena para penggunanya dapat melakukan crafting dan re-crafting sebelum hasilnya direview oleh orang lain. Editablity juga dapat bermakna kemampuan dari setiap individu untuk melakukan modifikasi atau merevisi konten yang sudah mereka komunikasikan, termasuk misalnya mengedit spelling error atau deleting content.Terahir, media sosial juga dikatakan terkait (associated) karena dapat menghubungkan antar individu, antara individu dan konten, atau antara aktor dan presentasi.

Tabel 3: Klasifikasi media sosial
Sumber: Paul J. Thomas dan Kevin C. Dittman (2016)

Media sosial menyediakan sebuah platform teknologi untuk membangun multi-relasi antara organisasi dengan para penggunanya, sehingga memungkinkan mereka lebih visible untuk mengekspose jaringan sosial yang mereka miliki.

Sebagian besar perusahaan-perusahaan kelas dunia sudah mengadaptasi media sosial sebagai alat komunikasi mereka. Berdasarkan review dari Investis tentang penggunaan media sosial oleh perusahaan-perusahaan di Amerika dan Inggris pada tahun 2015, disebutkan bahwa sektor bisnis yang paling banyak menggunakan media sosial adalah perusahaan-perusahaan teknologi, diikuti oleh perbankan, automobile, industri penerbangan (aerospace), perawatan kesehatan (health care), telekomunikasi, elektronik, migas dan yang terendah adalah perusahaan di sektor equity/non equity investment.

Berikut ini adalah urutan 50 besar perusahaan-perusahaan global di Amerika dan Inggris yang memiliki skor penggunaan media sosial tertinggi.

Tabel 4: Skor Penggunaan Media Sosial di Amerika dan Inggris

Sumber: Investis (2015)

Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa Cisco Systems, Inc, sebuah perusahaan Amerika yang bergerak di bidang networking hardware dan perlengkapan telekomunikasi, menempati posisi teratas dalam penggunaan media sosial sebagai alat komunikasi perusahaannya. Belajar dari Cisco Systems, perusahaan tersebut secara khusus memiliki Social Media Listening Center yang memonitor sekitar 5.000 mention per hari di 70 halaman Facebook, 100 akun Twitter dan juga LinkedIn, Youtube, corporate blog dan forum online yang dimilikinya. Dengan melakukan itu, Cisco Systems berhasil memperoleh Return on Investment (ROI) yang sangat besar. Beberapa bulan setelah Social Media Listening Center tersebut di-launching, ia mampu menghasilkan ROI 281% dalam periode 5 bulan. Selain itu, penggunaan media sosial juga membantu karyawan Cisco dalam berurusan dengan lebih banyak pertanyaan dari para pelanggannya.

Di Asia sendiri, hasil studi yang dilakukan oleh Burson-Marsteller pada tahun 2011 menyebutkan bahwa sebanyak 80 persen perusahaan di Asia yang terdaftar di The Wall Street Journal’s Asia 200 Index telah memiliki akun di media sosial. Dengan jumlah tersebut, perusahaan-perusahaan terkemuka di Asia itu berada di posisi yang tidak berbeda jauh dengan perusahaan yang termasuk dalam daftar Fortune 100. Menurut data, ada 84 persen dari perusahaan tersebut yang menggunakan kanal media sosial untuk pemasaran dan komunikasi korporasinya.

Di Indonesia sendiri, kita bisa mendapati bahwa sudah mulai banyak perusahaan-perusahaan lokal yang memanfaatkan media sosial untuk mendukung program corporate communication mereka, meskipun cenderung lebih banyak digunakan untuk kepentingan komunikasi pemasaran (marketing communication). Sebut saja brand-brand populer seperti Tokopedia, Lazada, Aqua, Telkomsel, Samsung Indonesia dan XL Axiata. Mereka adalah contoh dari brand-brand Indonesia yang memilki engagement dan jumlah follower tertinggi menurut laporan yang pernah dirilis oleh Sotrender.

Selain sebagai sarana komunikasi pemasaran, tidak sedikit pula perusahaan-perusahaan di Indonesia yang menggunakan media sosial sebagai sarana public relations (hubungan masyarakat). Sebagai contoh, perusahaan Garuda Maintenance Facilities (GMF) Aerosia memanfaatkan beberapa jenis media sosial yang sesuai dengan karakteristik publik dan budaya perusahaannya. Ia menggunakan LinkedIn, Facebook, Instagram dan Youtube sebagai platform untuk menjalin komunikasi dengan para khalayak. Perusahaan tersebut menggunakan LinkedIn untuk mem-posting press release secara berkala berdasarkan kegiatan yang berlangsung, dan juga konten seputar pengumuman magang di perusahaan tersebut. Ia juga memanfaatkan berbagai fitur yang terdapat dalam Facebook dan Instagram, misalnya dengan mem-posting foto dan link untuk menambah ketertarikan khalayak secara visual. Foto-foto yang diunggah lebih banyak berupa kegiatan perusahaan sendiri, misalnya foto pada saat perbaikan mesin pesawat dan foto-foto lain secara lebih dekat sehingga publik merasakan adanya engagement dengan perusahaan. (Fajar Syuderajat dan Kenanga Puspitasari, 2017: 90-94).

Ini adalah salah satu dari sekian banyak contoh bagaimana perusahaan-perusahaan di Indonesia mengelola platform media sosial mereka sehingga komunikasi organisasi dapat berjalan dengan efektif.

Hadirin Yang Saya Hormati,
Indonesia termasuk salah satu pengguna media sosial yang terbesar di dunia. Menurut perusahaan riset We Are Social, per bulan Januari 2017 jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 132,7 juta orang dari 262 juta populasi. Sementara ada 106 juta pengguna media sosial yang aktif.

Gambar 1: Global Digital Snapshot, January 2017
Sumber: https://wearesocial.com

Gambar 2: Indonesia Digital Snapshot, January 2017
Sumber: https://wearesocial.com

Saat penggunaan media sosial semakin tinggi, maka perilaku manusia menjadi jauh lebih terbuka satu sama lain (over opened). Demikian pula karakter dan perilaku para anggota organisasi, dimana mereka memiliki ruang terbuka untuk membangun jejaring sosial yang lebih kompleks. Bahkan kecenderungannya saat ini mereka tidak hanya menggunakan salah satu jenis media dan platform untuk menjalin komunikasi, melainkan memanfaatkan berbagai media dan platform sesuai keinginan dan hasrat. Fenomena tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi komunikasi organisasi.

C. Komunikasi Digital Bagi Generasi Milenial
Salah satu tantangan terbesar dari komunikasi organisasi adalah bagaimana caranya menghadapi karakter dan perilaku orang-orang yang masuk dalam kategori digital native. Dalam hal ini, digital native yang sudah masuk ke dunia kerja atau terlibat dalam organisasi adalah generasi milenial.

Generasi milenial adalah orang-orang yang lahir antara tahun 1982-2005. Sebagian besar dari mereka dalam kesehariannya sudah sangat bersahabat dengan teknologi komunikasi dan informasi. Di dunia kerja, mereka memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Menurut Gallup dalam penelitiannya yang berjudul How Millenials Want to Work and Live, generasi milenial memiliki karakteristik antara lain: tidak mau terikat (unattached), terhubung (connected), tidak mau dibatasi (unconstrained) dan idealis (idealistic).

Menurut hasil riset tersebut, ditemukan bahwa generasi milenial di Amerika pada umumnya tidak ingin terlalu terikat dengan pekerjaan. Berdasarkan data, hanya 29% pekerja generasi Y yang merasa terikat (engaged) dengan pekerjaan mereka. Mereka melihat organisasi (perusahaan) dengan cara yang sangat berbeda dari pendahulunya. Hal tersebut membentuk keputusan dalam memilih apakah mereka mau terlibat atau tidak terlibat dalam organisasi tersebut.

Selain itu, mereka adalah kaum yang sangat terhubung satu sama lain. 91% dari generasi milenial memiliki smartphone dan 71% diantaranya memandang bahwa internet adalah sumber utama mereka dalam memperoleh berita dan informasi. Keterhubungan yang sangat hyper tersebut membantu mereka dalam memperoleh perspektif global yang unik dan telah mentranformasi cara berinteraksi dan bekerja.

Generasi milenial juga menghendaki adanya perubahan, baik di tempat kerja maupun di masyarakat. Mereka tidak suka dengan hal-hal yang sudah pakem yang biasa dilakukan oleh orang-orang tua. Mereka menghendaki perubahan di tempat kerja (change to the workplace). Mereka ingin terbebas dari kebijakan tempat kerja yang masih menerapkan sistem lama yang terlalu hierarkis dan kaku. Mereka ingin memiliki cara komunikasi yang berbeda dengan para manajernya. Mereka ingin diperlakukan oleh atasannya tidak hanya dalam kapasitas mereka sebagai seorang karyawan namun juga sebagai seorang manusia. Penelitian Gallup menunjukkan bahwa ada 62% dari generasi milenial yang ingin bisa bertukar fikiran dengan para manajer tentang hal-hal yang tidak berkenaan dengan pekerjaan.

Terahir, mereka adalah kelompok yang idealis. Mereka bekerja tidak hanya untuk menghasilkan uang, namun juga untuk belajar dan berkembang. 87% dari mereka memandang penting akan professional development dan kesempatan memperoleh pengembangan karir.

Dalam menyikapi karakter dan perilaku generasi milenial tersebut, strategi komunikasi organisasi harus memiliki sensitivitas terhadap perubahan zaman (zeitgeist). Komunikasi organisasi era industrial yang cenderung terlalu birokratis, hierarkis dan mengedepankan peraturan ketat (strict rules) tidak akan cukup mampu meng-cover kebutuhan dan keinginan generasi milenial di era post-industrial.

Menurut para ahli kontemporer, organisasi post-industri membutuhkan struktur yang memiliki karakter antara lain: (Kim, 2005: 38-39)
1. Memiliki aturan yang dapat mendorong kreativitas, pembelajaran dan kerja secara mandiri
2. Memiliki lapisan hierarki organisasi yang tidak terlalu banyak untuk mempercepat respon dalam komunikasi
3. Memiliki level integrasi horizontal yang tinggi untuk meningkatkan efektivitas transfer pengetahuan dan pengalaman
4. Memiliki mekanisme pengambilan keputusan yang lebih desentralistik sehingga lebih efektif dan cepat dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul
5. Memiliki level komunikasi vertikal dan horizontal yang tinggi untuk mempermudah koordinasi.

Hal-hal tersebut merupakan berbagai jenis tantangan yang harus dihadapi oleh para sarjana dan ilmuwan komunikasi organisasi, agar mampu merumuskan konsep-konsep baru yang compatible dengan kondisi empiris organisasi kontemporer.

Hadirin Yang Saya Muliakan,

D. Manfaat dan Tantangan Komunikasi Digital
Salah satu benefit dari komunikasi digital bagi organisasi adalah peningkatan produktivitas dan efisiensi. Sebagai contoh dalam organisasi bisnis, perusahaan General Electric berhasil menghemat 18 juta dolar per tahun sejak menerapkan “paperless office”. Dengan mengadaptasi sarana dan prasarana digital, mereka dapat mensubstitusi berbagai jenis mesin seperti mesin fax, mesin fotokopi dan desktop printers. Sementara itu, Boeing mampu memangkas waktu penyelesaian proyek mereka sebesar 91% dengan menggunakansoftware kolaboratif (groupware). Menurut Mandel (2005), teknologi informasi yang digunakan dalam 25 tahun terahir telah mendorong kenaikan produktivitas hampir sebesar 70%. (Harris, 2008: 385).

Benefit dari komunikasi digital tersebut tidak hanya diperoleh organisasi, namun juga oleh para anggota organisasi, yakni meningkatkan komunikasi (improve communication) dimana setiap anggota organisasi dapat membangun kolaborasi kerja dengan lebih efektif. Selain itu komunikasi digital juga dapat menaikkan tingkat partisipasi (increase participation). Hal ini dikarenakan minimnya hambatan interaksi sehingga memungkinkan semua anggota untuk berkontribusi dan berkesempatan mempengaruhi kelompok.

Meskipun komunikasi digital memiliki banyak manfaat, namun di sisi lain juga memberikan tantangan (challenge) terhadap organisasi dan para anggotanya. Bagi organisasi, konsekuensinya adalah struktur organisasi yang ada harus mengalami perubahan menjadi lebih flat atau tidak terlalu hierarkis. Komunikasi digital mendorong terjadinya karakter dan pola komunikasi yang lebih egaliter dan berorientasi pemberdayaan (empowering).

Sementara itu bagi anggota organisasi, komunikasi digital berpotensi untuk menurunkan rasa percaya diri terhadap pengetahuan sendiri (decreases personal knowledge confidence). Hal ini dikarenakan mayoritas orang lebih yakin terhadap sumber-sumber pengetahuan dan informasi yang berasal dari internet. Selain itu, para anggota organisasi cenderung sulit melepaskan diri dari pekerjaannya (difficult to escape work). Hal ini karena mereka tidak bisa lepas dari alat-alat komunikasi yang mereka miliki. Sebagai contoh, hasil penelitian dari Ferrish Research pada tahun 2002 mengatakan bahwa para manajer perusahaan rata-rata menghabiskan waktu 4 jam per hari hanya untuk berurusan dengan email. (Harris, 2008: 385-389).

Secara lebih makro, Elizabeth Jones dkk dalam artikelnya yang berjudul “Organizational Communication: Challenges for the New Century” mengidentifikasi 6 buah tantangan (challenges) yang harus dihadapi oleh para ilmuwan di bidang komunikasi organisasi, yaitu: (Wrench, 2012: 37)
1. Inovasi dalam teori dan metodologi
2. Penerimaan terhadap peran etika
3. Perubahan isu dari level mikro ke level makro
4. Pengujian terhadap struktur organisasi baru
5. Pemahaman akan adanya perubahan komunikasi dalam organisasi
6. Pengujian terhadap perbedaan dan komunikasi antar kelompok
Manfaat dan tantangan komunikasi digital tersebut perlu dijadikan catatan khusus bagi setiap perusahaan yang mengadaptasi teknologi digital. Mereka harus mampu mengelola benefit yang ada, dan secara bersamaan dapat mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan negatif yang ditimbulkan dari efek digitalisasi.

Hadirin Yang Berbahagia,

E. Pentingnya Kompetensi Dalam Komunikasi Organisasi
Setelah memahami tantangan yang muncul dari pemanfaatan teknologi komunikasi digital, maka setiap organisasi perlu membekali dirinya dengan kompetensi komunikasi (communication competency). Kompetensi ini sangat diperlukan mengingat permasalahan komunikasi dari hari ke hari semakin kompleks, sehingga setiap organisasi di era digital perlu memiliki kemampuan komunikasi yang cukup untuk bisa tetap eksis.

Stephen Littlejohn and David Jabusch (1982) mendefinisikan kompetensi komunikasi sebagai kemampuan dan kemauan dari setiap individu untuk berpartisipasi dalam sebuah aktivitas komunikasi untuk menghasilkan pemaknaan yang maksimal. Definisi tersebut tidak hanya mensyaratkan pengetahuan tentang perilaku yang tepat, tetapi juga mengharuskan adanya motivasi untuk melakukan aktivitas komunikasi yang menghasilkan kesepahaman bersama.

Sementara itu, Fred Jablin and Patricia Sias (2001) mengatakan bahwa konsep kompetensi komunikasi harus difahami melalui model ekologi yang terdiri dari 4 buah sistem, yakni:
1. Microsystem, yang terdiri dari anggota-anggota organisasi dan orang lain yang berada di dekat lingkungan kerja (misalnya supervisor, co-worker dank klien).
2. Mesosystem, yang merepresentasikan inter-relasi antar microsystem yang ada (misalnya, apa yang individu pelajari dari tim pelaksana proyek dapat mempengaruhi kompetensinya dalam kelompok kerja fungsional dimana ia menjadi anggotanya).
3. Macrosystem, yang tidak merepresentasikan konteks terdekat dimana individu bekerja, namun secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi (misalnya divisi utama dari sebuah organisasi maupun organisasi itu sendiri secara keseluruhan)
4. Exosystem, yang merepresentasikan sistem keyakinan budaya secara keseluruhan, pengetahuan, sosial, teknologi dan ideologi politik.

Gambar 3: Ecological Model of Communication Competency
Sumber: Fred Jablin dan L. Putnam (2001)

Menurut model tersebut, kompetensi komunikasi harus dimiliki oleh setiap individu dalam organisasi secara komprehensif dan holistik, dari tingkat microsystem hingga exosystem, dan tidak hanya di level internal namun juga eksternal. Untuk itu organisasi harus mampu menyelesaikan persoalan-persoalan komunikasi internal organisasi baik di dalam konteks formal (horizontal, vertikal dan diagonal) maupun dalam konteks informal (grapevine). Selain itu, organisasi juga harus memiliki kompetensi untuk mengatasi masalah-masalah komunikasi eksternal organisasi terutama yang berkaitan dengan marketing dan public relation.

Kompetensi komunikasi yang bersifat holistik dan komprehensif tersebut saat ini sangat dibutuhkan oleh organisasi karena permasalahan dan potensi krisis organisasi dapat terjadi di berbagai level, baik di tingkat mikro, meso, makro dan ekso. Dalam konteks komunikasi digital, ketidakmampuan organisasi dalam mengelola komunikasi digital dapat berdampak secara cepat ke berbagai level sistem yang ada. Hal ini karena komunikasi digital memiliki cara kerja yang sangat cepat, sehingga sebuah isu yang tidak terkelola dengan baik akan menjadi bola liar yang bersifat destruktif.

Jika kompetensi komunikasi setiap individu dalam organisasi sudah dapat dikelola dengan efektif, maka perubahan-perubahan yang terjadi di ranah teknologi digital dapat diadaptasi dengan baik. Sehingga digitalisasi dalam komunikasi organisasi tidak bersifat dekonstruktif melainkan konstruktif.

Hadirin Yang Saya Hormati,

F. Paradigma dan Tradisi Penelitian Dalam Komunikasi Organisasi
Hal terahir yang inign saya sampaikan dalam kesempatan baik ini adalah tentang bagaimana komunikasi organisasi dipandang di ranah akademis, Secara epistemologis, pemahaman kita tentang komunikasi organisasi ditentukan oleh paradigma yang kita pakai dalam memandang realitas sosial (social reality). Perspektif tersebut dapat ditarik dari kontinum yang paling subjektif hingga yang palaing objektif.

Perspektif objektif memandang organisasi sebagai sebuah struktur (organization as a structure). Sebagai struktur, organisasi dianggap sebagai kata benda (noun). Ia merujuk pada pandangan bahwa objek-objek, perilaku dan peristiwa-peristiwa eksis dalam dunia “nyata” yang independen dari pengamatnya (perceiver). Sementara itu, perspektif subjektif memahami organisasi sebagai sebuah proses (organization as a process). Sebagai proses, organisasi dianggap sebagai kata kerja (verb), dan dalam bahasa Inggris ditulis “organizing”. Pandangan ini berbasis pada pemikiran bahwa realitas merupakan sebuah konstruksi sosial.
Teori yang cukup merepresentasikan pandangan bahwa organisasi merupakan sebuah struktur adalah teori struktural klasik. Tokoh-tokoh yang berjasa dalam mengembangkan teori ini antara lain Max Weber atau Frederick W. Taylor. Kedua tokoh tersebut menyajikan teori organisasi dan manajemen yang lebih fokus membahas tentang anatomi organisasi formal (formal organization).

Weber misalnya, memandang bahwa organisasi merupakan birokrasi yang memiliki tiga karakteristik, yaitu: otoritas, spesialisasi dan peraturan. Menurutnya, otoritas harus terlegitimasi secara formal (authorized formally). Organisasi yang didefinisikan Weber cenderung merupakan organisasi yang dibangun dengan sistem rasional melalui kekuatan aturan yang kewenangannya dikelola secara hierarkis. Selain itu, individu-individu dalam organisasi perlu terspesialisasi melalui pembagian kerja.

Hampir senada dengan Weber, Taylor memandang bahwa organisasi harus memiliki empat hal, yakni: pembagian kerja, proses skalar dan fungsional, struktur dan rentang pengawasan.Singkatnya, pembagian kerja berhubungan dengan distribusi tugas dan kewajiban. Secara birokratis, kewajiban organisasi dibebankan kepada jabatan-jabatan yang sudah terspesialisasi. Hal ini mirip sebagaimana pemikiran Weber. Dalam hal proses skalar dan fungsional, ia berhubungan dengan pertumbuhan vertikal dan horizontal organisasi. Proses scalar berkaitan dengan dimensi vertikal, sementara proses fungsional berhubungan dengan dimensi horizontal organisasi. Sementara itu, struktur berkaitan dengan hubungan fungsional dalam organisasi, yang terdiri dari lini dan staff. Adapun rentang pengawasan merupakan jumlah bawahan yang berada di bawah pengawasan seorang atasan. (Pace, 2013).

Sementara itu, jika organisasi dipandang sebagai sebuah proses, maka seperti apa organisasi akan sangat dipengaruhi oleh dinamika komunikasi antar para anggotanya yang terjadi dalam konteks waktu tertentu. Organisasi adalah sebuah konsep imajiner yang tidak pernah final, tergantung pada imajinasi orang-orang yang menjalankannya. Organisasi yang difahami sebagai proses cenderung bersifat dinamis karena ia kritis terhadap dirinya sendiri.

Tokoh paling berpengaruh yang memiliki pandangan bahwa organisasi merupakan sebuah proses adalah Karl Weick. Ia berpendapat bahwa kata “organisasi” tidak lain seperti sebuah mitos yang tidak dapat ditemukan. Organisasi adalah sejumlah peristiwa yang terjalin bersama-sama, yang berlangsung dalam dunia nyata. Untuk itu ia mendefinisikan organisasi sebagai sebuah proses pengorganisasian (organizing). Proses inilah yang kemudian menghasilan organisasi (organization). Weick sendiri mengatakan bahwa organisasi memiliki struktur, namun ia ditetapkan oleh pola-pola regular perilaku yang saling bertautan. (Pace, 2013).

Weick menyamakan pengorganisasian (organizing) dengan pemrosesan informasi (information processing). Menurutnya, informasi merupakan bahan baku proses organisasi. Namun komunikasi dalam organisasi seringkali bersifat samar (equivocal), yang berarti bahwa sebuah pesan setidaknya memiliki dua interpretasi yang setara. Pengorganisasian menggambarkan bagaimana manusia merasionalisasikan input verbal yang samar tersebut.

Pandangan Weick tentang pengorganisasian terinspirasi dari pemikiran Charles Darwin tentang evolusi dimana proses seleksi alam berawal dari variation, kemudian selection, lalu retention. Namun dalam konteks evolusi sosio-kultural, ia berpandangan bahwa proses pengorganisasian adalah proses mengurangi ketidakpastian yang mengandung tiga tahap, yakni: penerimaan informasi (enactment), seleksi (selection) dan retensi (retention). (Pace, 2013; Morissan, 2009).

1. Penerimaan informasi (Enactment)
Pada tahap ini, anggota organisasi mencatat dan mendaftarkan adanya informasi yang tidak pasti yang berasal dari luar organisai. Para anggota organisasi akan memperhatikan adanya stimuli atau rangsangan dan mengetahui akan adanya ketidakpastian. Di sini kemudian terjadi proses penerimaan dan interpretasi informasi oleh organisasi, dimana organisasi menganalisa input informasi yang diterima untuk menentukan jumlah ketidakpastian yang ada lalu memberikan makna terhadap informasi yang ada.

2. Seleksi (Selection)
Pada tahap ini anggota organisasi menyeleksi sejumlah informasi untuk menentukan relevansinya dengan persoalan yang dihadapi. Proses seleksi ini merupakan upaya mengeliminasi ketidakpastian yang muncul dari informasi yang diterima pada tahap awal.

3. Retensi (Retention)
Retensi adalah proses penyimpanan informasi yang akan digunakan pada waktu yang akan datang. Informasi tersebut disimpan oleh organisasi dan para anggotanya, dimana informasi tersebut nantinya akan digabungkan dengan informasi lainnya untuk menjalankan kegiatan organisasi di masa depan.

Dalam rentang waktu tertentu, paradigma yang seringkali dipakai untuk melihat organisasi lebih diwarnai oleh perspektif struktur dan proses. Namun, kedua perspektif tersebut kemudian dijembatani oleh satu paradigma baru yang membangun rekonsiliasi antara pendekatan subjektif dengan pendekatan objektif.

Pendekatan baru tersebut dirumuskan oleh para sosiolog kontemporer seperti Anthony Giddens (1984) dengan pemikirannya tentang strukturasi (structuration), dimana ia mencoba merekonsiliasi hubungan dikotomis antara agensi dan struktur. Agensi adalah kapasitas individu untuk bertindak secara independen dan menciptakan pilihan bebasnya sendiri. Sedangkan struktur adalah faktor-faktor seperti kelas sosial, gender, etnisitas, kebiasaan dan semacamnya yang membatasi atau mempengaruhi kesempatan yang dimiliki setiap individu.Dalam hal ini, struktur sosial menentukan bagaimana manusia bertindak dan berkomunikasi, dan di waktu yang sama tindakan tersebut menentukan bagaimana struktur sosial terbentuk.

Mirip dengan Giddens, Pierre Bourdieu (1990) juga telah berjasa dalam merekonsiliasi antara perspektif objektif dan subjektif dalam memandang realitas sosial. Jika Giddens memiliki konsep agen-struktur, maka Bourdieu memiliki konsep habitus-ranah, dimana habitus dan ranah juga memiliki relasi dialektis sebagaimana hubungan antara agen dan struktur. Habitus adalah perwujudan fisik dari budaya yang tercipta melalui proses komunikasi dan sosialisasi nilai-nilai (pengalaman hidup) yang berlangsung dalam waktu lama. Sementara ranah (field) merupakan setting lokasi dimana manusia dan posisi sosialnya saling berhubungan. Hal ini secara sederhana bisa dikatakan bahwa organisasi merupakan salah satu bentuk mikro dari ranah, sementara komunikasi adalah bagian dari aktivitas yang membetuk habitus. Relasi dari keduanya tidak bersifat linear, melainkan dialektis.

Pendekatan rekonsiliatif tersebut hingga hari ini masih sangat berpengaruh di ranah akademis, seiring dengan perkembangan teori-teori sosial kritis. Setelah itu muncul pula teori-teori post-modern. Namun hingga saat ini teori-teori post-modern relatif masih belum begitu dominan dalam mewarnai kajian komunikasi organisasi. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini penulis tidak banyak membicarakan tentang post-modernism ataupun post-structuralism.

Hadirin Yang Berbahagia,
Konsekuensi dari perbedaan paradigma dalam memandang komunikasi organisasi adalah munculnya variasi dalam tradisi metodologi dan jenis penelitiannya. Secara garis besar, tradisi metodologi (methodological tradition) yang selama ini berkembang dalam studi komunikasi organisasi ada 3 macam, yaitu: (Wrench, 2012).
1. Positivistic Tradition
2. Interpretive Tradition
3. Critical Tradition

Tradisi positivistic dalam komunikasi organisasi bersifat sangat saintifik. Para peneliti yang menggunakan tradisi ini biasanya memakai teori untuk membentuk serangkaian hipotesis, kemudian hiptesis tersebut diuji melalui observasi eksperimental. Hasil dari observasi eksperimental tersebut dapat membantu peneliti untuk merevisi teori sebelumnya. Kritik terhadap tradisi ini adalah cenderung reduksionistik, deterministik, dan terlalu menggeneralisasi persoalan-persoalan komunikasi yang sebenarnya kompleks. Secara umum tradisi ini memiliki 3 jenis penelitian, yaitu penelitian survey, eksperimen dan analisis konten.

Sementara itu, tradisi interpretive dalam komunikasi organisasi muncul sebagai kritik terhadap tradisi positivistic. Tradisi ini lebih fokus pada bagaimana orang berkomunikasi sehari-hari di lingkungannya sendiri dan bagaimana mereka memaknai aktivitas komunikasi tersebut, terutama saat mereka menggunakan komunikasi untuk tujuan pragmatis. Yang membedakannya dengan tradisi positivistic adalah tradisi interpretive tidak menggunakan hipotesis, melainkan dengan melakukan observasi langsung dan mempelajari perilaku yang ditunjukkan oleh partisipan tanpa harus dipandu oleh peneliti.

Sedangkan tradisi critical lebih melihat bagaimana masyarakat atau organisasi hadir di dunia yang memiliki kekuatan tidak seimbang (imbalance). Peneliti tradisi ini meyakini bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan dengan sengaja mencegah orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan untuk memperoleh kesetaraan (equality). Teori kritis biasanya melihat peristiwa komunikasi organisasi berdasarkan pada sudut pandang ideologi politik tertentu yang seringkali bias.

Untuk memahami perbedaan yang lebih detail mengenai 3 tradisi metodologi tersebut, ada baiknya saya menjelaskan komparasi dari ketiganya.

Pertama, dari sisi tujuannya, tradisi positivistic memiliki tujuan untuk mengklasifikasi fenomena komunikasi organisasi, mengukurnya dan mengkonstruksi model statistik untuk menjelaskan fenomena tersebut. Sementara tradisi interpretive bertujuan untuk mendeskripsikan secara lebih detail mengenai fenomena komunikasi organisasi yang diteliti. Sedangkan tradisi critical bertujuan untuk menguji bagaimana organisasi hadir dalam dunia yang memiliki kekuasaan tidak seimbang.

Kedua, dari sisi pandangannya terhadap organisasi, tradisi positivistic memandang organisasi sebagai suatu fenomena yang hadir secara natural, sementara tradisi interpretive menganggap organisasi sebagai entitas sosial yang berisi kebiasaan, adat dan ritual sehari-hari yang mengembangkan budayanya sendiri. Sedangkan tradisi critical memandang organisasi sebagai tempat dimana ketidakseimbangan kekuasaan terjadi secara inheren, dan cenderung memandang kelas pekerja sebagai orang yang ditundukkan (subjugated) oleh atasannya.

Ketiga, dari sisi penelitian, tradisi positivistic dipandang lebih objektif dan peneliti dapat mengambil posisi yang terpisah (detached) dari fenomena komunikasi. Biasanya tool of research yang dipakai menggunakan metode kuantitatif melalui survey. Sementara tradisi interpretive cenderung lebih subjektif dan peneliti dapat mengambil point of view dari dalam fonomena komunikasi. Penelitian ini biasanya menggunakan metode kualitatif dengan cara mengumpulkan data melalui interview dan observasi. Sedangkan tradisi critical memiliki tingkat subjektivitas paling tinggi karena berbasis pada kritik individu terhadap fenomena komunikasi. Penelitian ini biasanya memakai metode retoris yang sumbernya diperoleh dari peristiwa-peristiwa komunikasi baik yang aktual maupun rekaman (action or artifact).
Perbedaan tradisi tersebut adalah bagian dari kekayaan ilmu komunikasi organisasi pada khususnya dan ilmu sosial-humaniora pada umumnya. Meskipun tradisi interpretive muncul sebagai reaksi terhadap tradisi positivistic, dan tradisi critical hadir sebagai respon terhadap tradisi interpretive, namun bukan berarti yang muncul belakang dipandang lebih baik. Menurut saya, komunikasi organisasi harus dapat mengadaptasi berbagai varian paradigma dan metodologi yang ada, kemudian dapat dimanfaatkan secara fungsional sesuai dengan konteks kebutuhan dan dinamika empiris yang berkembang dalam organisasi. Komunikasi organisasi harus memiliki fungsi transformatif di dunia praksis dengan tetap memperhatikan nilai-nilai saintifik.Dengan cara seperti inilah, peran ilmu pengetahuan di Perguruan Tinggi dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat luas.

Penutup
Seiring dengan perubahan sosial-ekonomi, teknologi dan lingkungan yang terjadi, saat ini semua organisasi menghadapi tantangan yang semakin berat dari hari ke hari. Terutama bagi organisasi bisnis (perusahaan), kompetisi yang terjadi di tingkat eksternal sudah semakin ketat bahkan dapat mengancam eksistensi organisasi. Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi (adaptability) merupakan hal yang urgent. Salah satu yang terpenting adalah kemampuan dalam mengadaptasi teknologi digital sebagai perangkat untuk membangun komunikasi yang lebih efektif dan efisien. Komunikasi digital terbukti mampu memberikan benefit bagi organisasi, baik di level komunikasi internal maupun eksternal (corporate communication).

Akan tetapi, saya meyakini bahwa di masa yang akan datang adaptasi teknologi digital belum cukup untuk membuat organisasi survive. Hal ini karena kelak teknologi hanya menjadi pra-syarat untuk menjalankan organisasi. Nantinya akan ada syarat-syarat utama yang harus dimiliki oleh organisasi, yakni yang berhubungan dengan nilai-nilai: nilai dalam komunikasi, kepemimpinan, kekuasaan, cara berfikir (wisdom), kreativitas dan inovasi. Jika teknologi diibaratkan sebagai hardware, maka nilai-nilai dalam organisasi tersebut merupakan software. Keduanya sama-sama diperlukan dalam membangun organisasi yang siap menghadapi berbagai variasi perubahan.
Oleh karena itu, komunikasi organisasi diharapkan dapat berperan baik secara konseptual maupun secara praktis dalam menghadapi tantangan organisasi masa depan. Secara konseptual komunikasi organisasi harus dapat mengidentifikasi dan menganalisa masalah-masalah terbaru yang muncul dalam dunia keorganisasian, sementara secara praktis ia harus dapat membantu memberikan solusi atas berbagai bentuk disruption yang dihadapi organisasi.

Hadirin Sekalian Yang Berbahagia,
Sebelum saya mengakhiri pidato ini, izinkanlah saya menghaturkan jutaan terima kasih setulus-tulusnya kepada keluarga, sahabat, rekan kerja, dan berbagai pihak yang selama ini telah memberikan dukungan kepada saya hingga saya memperoleh amanah sebagai guru besar. Tanpa jasa dan peran mereka semua, barangkali apa yang saya peroleh hari ini hanyalah sebuah mimpi. Karena keberadaan merekalah, saya memberanikan diri untuk mengubah mimpi menjadi sebuah impian, mengubah ilusi menjadi sebuah cita-cita, dan mengubah fantasi menjadi sebuah fakta. Mereka adalah kekuatan yang menyingkirkan kelemahan, semangat yang membunuh kemalasan, dan keberanian yang menghapus ketakutan.
Terkhusus keluarga saya: Istri dan anak-anak tercinta, semuanya laksana matahari yang tidak pernah jenuh berbagi cahaya dan kehangatan, bagaikan air telaga yang tak pernah berhenti mengobati dahaga. Sekiranya semua sajak dan puisi cinta saya himpun menjadi satu, sampai kapanpun kata-kata tidak akan pernah setara dengan perwujudan cinta yang nyata. Bersama mereka, saya telah menaiki tangga kehidupan satu demi satu, menata rencana tahap demi tahap, dan memupuk cita-cita langkah demi langkah. Segala onak dan duri kami hadapi bersama, menjadikan senyum dan tawa sebagai obat, serta air mata sebagaiolah rasa. Tanpa peran serta mereka, sebuah rumah kesuksesan dan kebahagiaan tidak akan pernah terbangun sempurna. Tanpa motivasi mereka, anugerah yang saya peroleh hari ini hanyalah sebuah imajinasi.

Saya juga ingin menghaturkan terima kasih kepada kampus yang telah membesarkan saya selama ini. Belum hilang dari ingatan saya, saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus UPI. Saya sudah jatuh cinta kepada kampus ini sejak pandangan pertama. Kampus ini begitu cantik dan mempesona, namun menyimpan kesahajaan dan kesederhanaan, memberikan kedamaian dan ketenangan jiwa. Sejak itu saya berazzam untuk menjadi bagian dari lingkungan kampus ini, hingga akhirnya harapan tersebut terealisasi. Kenangan di kampus UPI tidak akan pernah terhapus sampai saya memejamkan mata. Setiap yang ada di kampus ini menjadi saksi, ada sajak-sajak kenangan dan cinta yang tidak pernah tertulis oleh tinta, namun getarannya terasa abadi. Ilmu pengetahuan dan persahabatan menyatu dalam satu tarikan nafas, belajar bersama, bekerja bersama, untuk tujuan yang sama. Sampai akhirnya memperoleh belahan jiwa di kampus tercinta.

Anugerah dan keberkahan yang saya peroleh hingga hari ini tidak lain merupakan pemberian dan pertolongan dari Allah SWT, dan juga atas bantuan dan jasa banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah saya secara khusus menghaturkan terima kasih dan penghargaan yang setinggih-tingginya kepada:

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang telah menyetujui pengusulan guru besar saya.

Dirjen SDID (Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Tinggi) Prof. Dr. Ali Gufron yang telah menyetujui penilaian angka kredit jabatan guru besar saya, Direktur Direktorat Karier dan kompetensi ditjen SDID Kemristekdikti Prof. Dr. Bunyamin Maftuh, M.A., M.Pd. yang telah memproses usulan guru besar dan memberi kepercayaan kepada kami sebagai tim rekomendasi pengembangan SDM Kemristekdikti 2016 sampai sekarang.

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. H. R. Asep Kadarohman, M.Si., Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya dan Administrasi Umum Dr. H. Edi Suryadi, M.Si., Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Pengembangan, dan Sistem Informasi Prof. Dr. Aim Abdulkarim, M.Pd., Wakil Rektor Bidang Riset, Kemitraan, dan Usaha Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A.

Dekan FPEB Prof. Dr. H. Agus Rahayu, MP, Wakil Dekan I Bidang Akademik Prof. Dr. H. Eeng Ahman, M.S., Wakil Dekan II Bidang Keuangan dan Sumber Daya Dr. Rasto, S.Pd., M.Pd., Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Dr. Lili Adi Wibowo, S.Pd., S.Sos., M.M.
Direktur Sekolah Pascasarjana UPI Prof. H. Yaya S. Kusumah, M.Sc., Ph.D., Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Dr. Anna Permanasari, M.Si., Wakil Direktur Bidang Keuangan dan Sumber Daya Prof. Dr. H. Disman, M.S.

Direktur dan staf Direktorat Sumber Daya Manusia yang telah memproses usul jabatan guru besar serta ketua program studi Pendidikan Manajemen Perkantoran FPEB Dr Budi Santoso, M.Si yang telah berinisiatif mengajukan usul guru besar.

Terimakasih dan hormat saya sampaikan kepada Prof. Dr. H. Moch Idochi Anwar (Alm), Prof. Dr. Hj. Tjutju Yuniarsih, S.E., M.Pd., Prof Dr H Karim Suryadi, M.Si., Prof. Dr. Hj. Nina Winangsih Syam (Almh) selaku peer group yang telah menelaah karya-karya ilmiah untuk usulan guru besar dan memberikan masukan terhadap makalah posisi dan naskah pidato ini.

Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada Prof. Sudardja Adiwinarta, P.hD., Prof. Dr. Yossi Adiwisastra, M.S., Prof. Dr. Hj. Nina Winangsih Syam (Almh) selaku promotor dan co promotor dalam menempuh pendidikan S3 bidang kajian utama ilmu komunikasi di program pascasarjana Universitas Padjadjaran tahun 2007. Ucapan terimakasih kasih saya sampaikan kepada Prof. Dr. H. Engkus Kuswarno, MS., Dr. H. Atwar Bajari, M.S. dosen pembimbing tesis bidang kajian utama ilmu Komunikasi UNPAD tahun 1999.

Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada Prof. Dr. Yayat Riwayatna, M.Pd. dan Dra. Hj. R. S. Asiah, selaku pembimbing skripsi sewaktu menempuh studi di strata I jurusan Pendidikan Manajeme FKIS IKIP Bandung Tahun 1987.

Terimakasih saya ucapkan kepada rekan sejawat dalam mengampu mata kuliah, Bapak Dr. Budi Santoso, M.Si. dalam Mata Kuliah Manajemen Perkantoran, Bapak Adman S.Pd., M.Pd. dalam mata kuliah kurikulum dan perencanaan pembelajaran, Bapak Drs Alit Sarino dalam mata kuliah Komunikasi Perkantoran, Dr. Chaerul Furqon, M.M. dalam Mata Kuliah Komunikasi dan negosiasi bisnis, Dr. H. Nani Sutarni, M.Pd. dalam mata kuliah Kesekretarisan, Masharyono, MM dalam Mata kuliah pengantar bisnis, Prof. Dr. Tjutju Yuniarsih, S.E., M.Pd. dan Dr. H. Syamsul Hadi Senen, MM dalam mata kuliah Manajemen SDM, Gita Siswara, M.M. dan Ibu Rini Andari, S.Pd., SE.Par, M.M., Bapak Tito Edi Priandono, M.Si. dalam Mata Kuliah Hubungan Masyarakat, Ibu Rofi Rofaida, S.P., M.Si. dalam mata kuliah MSDM.

Kepada rekan sejawat di prodi pendidikan manajemen perkantoran Prof. Komaruddin (alm), Drs. Sutisna Permana (alm), Drs. Hadis Suryanto M.Si., Drs. Noenoeng Djoenaedi (alm), Drs. Nunung Supardi, (alm), Dra. Hj. Tetty Yunaety (almh), Dra. Uung Dj, Drs. Iwa Sukiswa (alm), Dr. Bejo Siswanto M.Si., Drs. Maman Ukas M.Pd., Drs. H. Acu Supratman M.Pd., Dra. Tati Sugiharti, Drs. H. Daryono, Drs. Eddy Soewardi, Drs. Uep Tatang Sontani, M.Si., Prof. Dr. Hj. Tjutju Yuniarsih, S.E., M.Pd., Dr. H. Edi Suryadi, M.Si., Dr. Budi Santoso, M.Si., Dr. Rasto, M.Pd., Dr. H. Ade. Sobandi, M.Si, M.Pd, Dr. Jannah Sojannah, M.Si., Dr. Endang Supardi M.Si., Dr. Hj. Nani Sutarni MPd, Dra. H.j Nani Imaniati, M.Si., Drs. Hendri Winata M.Si, Drs. H. Alit Sarino MSi., Sambas Ali Muhidin M.Si., Adman M.Pd, Dr. Hadi Siti Hadijah M.Si., Rini Intansari M.Pd., Prodi Manajemen, Prodi Ilmu Ekonomi Keuangan Islam, Prodi Akuntansi FPEB, Prodi Manajemen Pemasaran Pariwisata, Departemen Ilmu Komunikasi FPIPS, saya ucapkan terimakasih yang tak terhingga atas kerjasama selama jadi dosen di prodi tersebut. Segenap staf administrasi baik di prodi, fakultas, maupun Universitas, terimakasih atas dukungan administrasi yang telah Ibu Bapak berikan sehingga usulan guru besar lancar.

Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada guru-guru di SMEA Pembina Tegal, Pak Winarno, Ibu Endah, Ibu Murwati, Pak Slamet, Ibu Sanaah, Ibu Maskhani, Ibu Jatimurti, Ibu Nailah dan yang lainnya yang telah mendidik hingga bias meraih jabatan Guru Besar.

Terimakasih kepada guru-guru di SMP Negeri I Adiwerna Tegal, Ibu Endang, Pak Sumarto, Pak Joko, Pak Siswanto, Pak Sunaryo yang telah mendidik dengan ikhlas dan Tanggung Jawab.

Terimakasih saya sampaikan kepada guru dan sahabat waktu di sekolah dasar Pagiyanten II Kec.Adiwerna; Bapak Sugiyat Selaku Kepala Sekolah, Bapak Tulus Darapon, Bapak Robin, Bapak Sarwono dan Sahabat karib Mas Suripto.

Terimakasih tak terhingga kepada orang-orang tercinta yang telah mendidik dan membesarkan dengan penuh kasih sayang serta keikhlasan. Kepada ibunda tercinta Hj. Ramunah Mutmainah (Almh) Ayahanda tercinta H. Tara Fakhrudin (Alm).

Terimakasih juga saya sampaikan kepada ayah mertua H. M. Sayudi (Alm) dan Ibu Hj. Chiftiyah yang telah mendoakan keluarga kami hingga saat ini.

Istri tercinta Dra. Hj. Tien Kurnia yang tiada hentinya mendoakan dan memberikan dukungan membina keluarga sakinah mawadah warohmah.

Terimakasih kepada anak-anak dan menantu yang telah memberikan dukungan dan doa, Tika Endah Lestari, M.Si. dan Rizky Singgih S.T., Nerissa Arviana S.Psy., dan H. Radityawan S.E., M.Psi., Zafira Yasmin S.Pd., Mohamad Fauzan.

Terakhir saya mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu atas dukungan moril dan materi serta kerjasama yang baik selama saya berkarir sebagai dosen hingga sampai saat ini.

Saya berdo’a semoga Allah SWT membalas kebaikan jasa-jasa Ibu Bapak sekalian, dan mengangkat derajat kita semua menuju kedudukan yang lebih tinggi sebagai manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Mujadalah/58 ayat 11:
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Semoga pidato ini dapat memberikan inspirasi dan manfaat untuk hadirin sekalian. Jika terdapat kekurangan dalam penyampaiannya saya haturkan maaf sebesar-besarnya. Sekali lagi, terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Referensi:

Aghaei, Sareh, Mohammad Ali Nematbakhsh dan Hadi Khosravi Farsani. 2012. Evolution of the World Wide Web: from Web 1.0 to Web 4.0. International Journal of Web & Semantic Technology (IJWesT) Vol. 3, No. 1, January 2012.

Bourdeau, Pierre. 1990. The Logic of Practice (terj. Richard Nice), Cambridge: Polity Press.

Bria, Francesca. Social Media and Their Impact on Organisations: Building Firm Celebrity and Organizational Legitimacy Through Social Media (Disertasi di Imperial College London).

Choudhury, Nupur. 2014. World Wide Web and Its Journey from Web 1.0 to Web 4.0. International Journal of Computer Science and Information Technologies, Vol. 5 (6), 2014, 8096-8100.

Gaither, Cherie. 2012. The Role of Internal Communication and the Effect on Employee Engagement. Graduate Theses, Dissertations, and Capstones. Paper 2

Giddens, Anthony. 1984. The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration. Berkeley, CA: University of California Press.

Gonçalves, Gisela, Ian Somerville dan Ana Melo (Ed.). 2013. Organisational and Strategic Communication Research: European Perspectives. Livros LabCom

Griffin, Emory A. 2012. A First Look At Communication Theory. New York: McGraw-Hill

Harris, Thomas E. dan Mark D. Nelson. 2008. Applied Organizational Communication: Theory and Practice in A Global Environment. New York: Taylor & Francis Group

Hartley, Peter dan Clive G. Bruckmann. 2002. Business Communication. London: Routledge.

Hayase, Lynn Kalani Terumi. 2009. Internal Communication in Organizations and Employee Engagement. UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones, Jablin, Fred dan L. Putnam. 2001. The new handbook of organizational communication:
Advances in theory, research, and methods. Thousand Oaks, CA: Sage
Kaplan, M. A. dan Haenlein, M. 2009. Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media.

Kim, Hyo Sook. 2005. Organizational Structure and Internal Communication as Antecedents of Employee-Organization Relationships in the Context of Organizational Justice: A Multilevel Analysis. Desertasi.

Littlejohn, S. W. dan D. M. Jabusch. 1982. Communication competence: Model and application. Journal of Applied Communication Research 10(1): 29–37.

Morissan. 2009. Teori Komunikasi Organisasi. Bogor: Ghalia Indonesia

Pace, R. Wayne dan Don F. Faules. 2013. Komunikasi Organisasi; Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan (cet. 8). Bandung: Rosda Kaya

Parveen, Farzana. 2012. Impact Of Social Media Usage On Organizations.PACIS 2012 Proceedings. Paper 192.

Shockley-Zalabak, Pamela S. 2015. Fundamentals of Organizational Communication (9th ed.). United States of America: Pearson

Syuderajat, Fajar, dan Kenangan Puspitasari. 2017. Pengelolaan Media Sosial Oleh Unit Corporate Communication PT GMF Aeroasia. Komuniti, Vol. 9, No. 2, September 2017.

Thomas, Paul J. dan Kevin C. Dittman. 2016. Social Media and its Impact on Quality of Communication Management. IAJC-ISAM Joint International Conference.

Treem, Jeffrey W. dan Paul M. Leonardi. 2012. Social Media Use in Organizations; Exploring the Affordances of Visibility, Editability, Persistence, and Association. Communication Yearbook, Vol. 36

Vasquez, Lina Margarita Gomez dan Ivette Soto Velez. 2011. Social Media as a strategic tool for Corporate Communication. Revista Internacional De Relaciones Publicas, No. 2, Vol. 1 (Páginas 157-174)

Wrench, Jason. S. (Ed.). Workplace communication for the 21st century: Tools and strategies that impact the bottom line:. Vol. 1. Internal workplace communication. Santa Barbara, CA: Praeger.

Wrench, Jason S. dan Narissra Punyanunt-Carter. 2012. An Introduction to Organizational Communication. Diambil dari:
https://2012books.lardbucket.org/pdfs/an-introduction-to-organizational-
communication.pdf

PROFIL PENULIS

Prof. Dr. Suwatno, M.Si., dilahirkan di Tegal Jawa Tengah pada tanggal 27 Januari 1962. Pendidikan sekolah dasar di SD Pagiyanten II Kec. Adiwerna Kab Tegal diselesaikan tahun 1974, di SMPN I Adiwerna diselesaikan pada tahun 1977, dan di SMEA Pembina kota Tegal diselesikan tahun 1981, Pendidikan Sarjananya ia peroleh dari Program Studi Pendidikan Manajemen di IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia)lulus tahun 1987. Kemudian ia melanjutkan program Magister ilmu komunikasi UNPAD lulus tahun 1999 dan Doktoral pada Program Studi Ilmu Komunikasi UNPAD lulus tahun 2007. Saat ini ia bekerja sebagai Dosen sekaligus Guru Besar di Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Selain mengajar, ia juga pernah diamanahi jabatan antara lain sebagai Sekretaris Komisi C Senat Akademik (2009-2013), Kepala Humas (2010-2015) dan Ketua Prodi Pendidikan Ekonomi Sekolah Pascasarjana UPI (2015-sekarang). Di luar kampus ia juga pernah menjadi Konsultan Pengembangan SDM pada Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional (2003-2009) dan jabatan Widyaiswara di Pusdiklat Teknologi Mineral Kementerian ESDM (2010-2015).
Tidak hanya itu, ia juga memiliki pengalaman mengisi pelatihan/workshop, berbagai acara konferensi dan seminar, sebagai reviewer, interviewer, kegiatan riset dan pengabdian masyarakat, serta menghasilkan karya tulis ilmiah baik dalam bentuk buku maupun jurnal.
Kesibukannya dalam mengisi pelatihan antara lain ia pernah menjadi narasumber pada acara workshop penelitian lintas disiplin ilmu di Sekolah Pascasarjana UPI, pelatihan uji kompetensi calon pembimbing tesis dan desertasi di Monash University Australia, dan berbagai program pelatihan lainnya. Ia juga seringkali menjadi peserta dan narasumber berbagai konferensi dan seminar yang diselenggarakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Kegiatan lainnya adalah menjadi revieuwer buku teks dan non teks di PUSKURBUK (Pusat Kurikulum dan Perbukuan) Balitbang Kemendikbud dan UPI, revieuwer dan penyusun pedoman pemilihan Best Practices pengawas sekolah, penyusun pedoman bantuan pendidikan S2 dan S3 bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah dan penyusun pedoman perlindungan bagi kepala sekolah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu ia juga menjadi interviewer dalam seleksi calon dosen, calon pegawai administrasi dan calon mahasiswa Pascasarjana di UPI. Sebagai intervieuwer dan penyeleksi calon penerima beasiswa LPDP S2 dan S3 baik di dalam negeri maupun luar negeri (2016-Sekarang), sebagai pakar di SESKO TNI, SESKO AU, Dosen Luar Biasa FISIP UNPAD (1996-2007), Dosen STIA LAN Bandung (1996-2008), Dosen Politeknik dan STMIK LPKIA (1993-2006). Sebagai peneliti, ia telah melakukan banyak riset antara lain yang terbaru adalah tentang Model Knowledge Management dalam Pengembangan Kompetensi Manajerial Bagi Pengusaha Industri Kecil di Jawa Barat sumber dana dari Kemristekdikti, Pemetaan Kemampuan Soft Skills Guru Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Profesional, dan Identitas Bahasa dan Budaya Masyarakat Sunda Katolik di Daerah Cigugur, Kuningan: Kajian Ilmu Komunikasi dan Linguistik (2016).

Karya tulis yang pernah dihasilkannya antara lain:

I. PENGALAMAN RISET
No Judul Riset Institusi Penyelenggara Riset Tahun
1 Analisis penyelenggaraan pendidikan berbasis sumber daya serta pengaruhnya terhadap keunggulan sekolah UPI – Sumber Dana Dirjen Dikti Kemdikbud 2012
2 Studi Deskriptif Kepuasan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Manajemen Perkantoran terhadap Kinerja Mengajar Dosen Tahun 2012 UPI – Sumber Dana UPI 2012
3 Penciptaan Daya Saing melalui Value Orientation serta Co-Creation Strategy Sekolah Pascasarjana UPI – Sumber Dana SPs UPI 2013
4 Model Knowledge Management dalam Pengembangan Kompetensi Manajerial Bagi Pengusaha Industri Kecil di Jawa Barat UPI – Sumber Dana Dirjen Dikti Kemdikbud 2013
5 Inventori Gastronomi Unggulan Jawa Barat sebagai Basis Pariwisata UPI – Sumber Dana UPI 2013

6 Model Knowledge Management dalam Pengembangan Kompetensi Manajerial Bagi Pengusaha Industri Kecil di Jawa Barat UPI – Sumber Dana Dirjen Dikti Kemdikbud 2015
7 Model Knowledge Management dalam Pengembangan Kompetensi Manajerial Bagi Pengusaha Industri Kecil di Jawa Barat (Lanjutan) UPI – Sumber Dana Dirjen Dikti Kemdikbud 2016
8 PEMETAAN KEMAMPUAN SOFT SKILLS GURU DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU PROFESIONAL
(Survei pada Guru Ekonomi SMAN di Kota Bandung) UPI – Sumber Dana UPI 2016
9 IDENTITAS BAHASA DAN BUDAYA MASYARAKAT SUNDA KATOLIK DI DAERAH CIGUGUR, KUNINGAN: KAJIAN ILMU KOMUNIKASI DAN LINGUISTIK UPI – Sumber Dana UPI 2016

II. KARYA ILMIAH (Buku/Jurnal/Makalah)
No Karya Ilmiah Judul Penerbit/Alamat Website Penerbit Tahun
a. Buku
1 Manajemen Sumber Daya Manusia, Teori Aplikasi dan Isu Penelitian, ISBN : 978-979-8433-98-6, , (Penulis kedua) Alfabetha, CV Bandung
www.cvalfabeta.com
25 Desember 2008
2 Komunikasi Bisnis, ISBN : 978-979-1017-57-2, , Rizqi Press
Jl. Cidadap Girang 26 Kel. Ledeng Kec. Cidadap Kota Bandung 40143. Tlp. 0222005869 Juni 2009
3 Manajemen Perkantoran, ISBN : 978-979-1017-58-9. Rizqi Press
Jl. Cidadap Girang 26 Kel. Ledeng Kec. Cidadap Kota Bandung 40143. Tlp. 0222005869 Desember 2009

4 Pengantarr Bisnis, Suatu Pendekatan Operatif dan Sistem Operasi, ISBN : 978-979-1017-72-5 Rizqi Press Bandung
Jl. Cidadap Girang 26 Kel. Ledeng Kec. Cidadap Kota Bandung 40143. Tlp. 0222005869 2010
5 Komunikasi Organisasi Karya Adhika Utama
Karya Adhika 8 No. 26 Antapani Bandung 40291. Tlp/Fax 022 7232953
Email : karya_adhika@yahoo.com
2011
6 Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi Publik dan Bisnis ISBN 978-602-8800-67-9 Alfabeta, Bandung
www.cvalfabeta.com
2011

7 Pengantar Komunikasi Karya Adhika Utama
Karya Adhika 8 No. 26 Antapani Bandung 40291. Tlp/Fax 022 7232953
Email : karya_adhika@yahoo.com
2012
8 Komunikasi Pemasaran Konstektual Simbiosa Rekatama Media 2017
9 Komunikasi Organisasi Kontemporer Simbiosa Rekatama Media 2018
b. Jurnal
1 Pengaruh Penempatan terhadap Produktivitas Kerja Pegawai Administrasi Manajerial Vol.3, No.5 Januari 2005
2 Pengembangan SDM Menuju Peningkatan Indeks Manajerial Vol.4, No.8 Juli 2005

3 Analisis Kompetensi Guru/Dosen Manajemen JPIS 2006
4 Audit Komunikasi Sebagai Alat Mengukur Efektifitas dan Efisiensi Komunikasi Organisasi Manajerial Vol. 7, No.13 Juli 2008
5 Membangun Mitra Kerja Melalui Komunikasi Manajerial, ISSN 1412-6613, Vol.6, No.12 Januari 2008
6 Implementasi Proses Pembelajaran dalam Mencapai Kompetensi Guru Bidang Keahlian Manajemen Perkantoran JPIS ISSN : 0854-5251, Vol.16, No. 31 Desember 2008

7 Visi Kepemimpinan Presiden Republik Indonesia dari masa ke masa Dialektika Budaya, VOl.XV No.01/Agustus 2008 ISSN 1410-007 Agustus 2008
8 Paradox Problem on Organizational: A Theory of Role Jurnal Internasional “Alumni”Vol.2, No.1, January-April 2010 2010
9 Keunggulan Kompetitif Pendidikan Guru: Pendekatan Starategi Berbasis Sumber Daya dan Jenjang Sumber-Keunggulan Organisasi Pemberitaan Ilmiah “Percikan”Vol.108, Edisi Januari 2010, ISSN 0854-8986 2010

10 The Influence of Organizational Communication and Organizational Culture on the Motive of Achievement Jurnal Internasional “Historia” Page 142-158 vol.X, No.1 June 2009, ISSN 2086-3276 2009
11 Analysis of Resources-Based Education Management and It’s Effect on School Advantage (Study on Vacation High School in the City and District of Bandung) International Journal of Education 2014
12 Indonesian As A Foreign Language (BIPA) Students’ Inercultural Communication Competence And Experiences Of Learning Man In India (Jurnal Internasional Terindex Scopus) 2016
13 Empowerment Strategies In
Cooperative And Micro, Small,
Medium Enterprises (Msme)
To Increase People’s Income Indonesian Journal Of Economic Research (IJER)
2016
14 Komunikasi Corporate Social Responsibility Pada Official Website Perusahaan Badan Usaha Milik Negara Jurnal Aspikom Volume 3, Nomor 2, Januari 2017 2017
15 Development of Managerial Competence Through Knowledge Management in Small Industries in West Java IOPScience 2017

c. Artikel di Media masa
1 Bersiap Menghadapi MEA Pikiran Rakyat 18 Februari 2016
2 Etika Bermedia Sosial Pikiran Rakyat
Sabtu, 07 Januari 2017, Hal 26
3 Komunikasi Santun Pikiran Rakyat Senin, 13 Februari 2017, Hal 26
4 Komunikasi Ki Sunda Pikiran Rakyat Sabtu, 01 April 2017, Hal 26
5 Komunikasi Bisnis yang Adaptif Pikiran Rakyat Sabtu, 13 Mei 2017, Hal 22
6 Fatwa untuk Pengguna Media Sosial Pikiran Rakyat Kamis, 08 Juni 2017, Hal 26
7 Sekolah Lima Hari Pikiran Rakyat Kamis, 29 Juni 2017, Hal 26
8 Pemblokiran Telegram & Risiko “Framing” Pikiran Rakyat Kamis, 20 Juli 2017, Hal 26
9 Grup Medsos dan Komunikasi Egaliter Pikiran Rakyat Selasa, 15 Agustus 2017, Hal 22
10 Saracen dan Hoaks Politik Pikiran Rakyat Sabtu, 2 September 2017 Hal 26
11 Pembangunan SDM & Infrastruktur Pikiran Rakyat Jumat, 6 Oktober 2017
12 Kebijakan E-Toll Harus “Bijak” Pikiran Rakyat Sabtu 18 November 2017 Hal 22
13 Tantangan Pendidikan Karakter Pikiran Rakyat Sabtu 25 Nopember 2017 Hal 26
14 Doktor, Kuantitas dan Kualitas Pikiran Rakyat Kamis 15 Februari 2018

III. KONFERENSI DAN SEMINAR
No Judul Kegiatan Penyelenggara Panitia/Peserta/ Pembicara Tahun
1 Analisis Kebutuhan Diklat ditjen Mandikdasmen Depdiknas sebagai pemakalah, Jakarta 2008 Jakarta PEMAKALAH 2008

2 International Seminar on Competence Base Teaching, sebagai Peserta UPI PESERTA 2009
3 Menyiapkan SDM unggul Dalam menghadapi ACFTA di University of Malaya Malaysia sebagai pemakalah th 2010 Malaysia PEMAKALAH 2010
4 Workshop Global Climate, di Vietnam national University Vietnam PESERTA 2010
5 Bimbingan Teknis Keprotokolan Bagi Tenaga Administrasi Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan Kopertis Wilayah sebagai Narasumber, di Jatinangor Kopertis Jabar PEMBICARA 2015
6 International Conference on Teacher Education with its central theme “Towards Developing Standard of ASEAN Teacher Education”, as Committee Member, Universitas Pendidikan Indonesia, 29 July 2015. Universitas Pendidikan Indonesia PESERTA 2015
7 Bimbingan Teknis Pelayanan Prima Bagi Tenaga Administrasi Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan Kopertis Wilayah IV, di Jatinangor, 3 s.d. 5 Agustus 2015 Kopertis Jabar PESERTA 2015
8 Indonesia-Malaysia Management Business International Seminar & Workshop pada di Bandung, 27-31 Mei 2016 UPI & Asia e University Presenter 2016
9 International Conference in Organizational Innovation di Beijing China tanggal 26-28 Juli 2016 ICOI Presenter 2016

10 Pelatihan Pendidikan Tingkat nasional di Auditorium Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Tanggal 26-28 Agustus IAIN Syekh Nurjati Cirebon Pembicara 2016
11 Academic Discussion On Business Management’s Development to Create a Creative and Innovative Edupreneur in Korea and Indonesia Youngsan University, South Korea Participated 2016
12 Training For Leader Bagi Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah di Lingkungan yayasan Assyifa Al-Khoeriyyah Ciater pada tanggal 24-26 Mei 2017 yayasan Assyifa Al-Khoeriyyah Pemateri “Komunikasi Organisasi” 2017
13 2nd International Conference On Economics, Education, Business, And Accounting di Makasar Tanggal 28-29 Oktober 2017 Universitas Negeri Malang Presenter 2017
14 The International Conference Of Islamic Economics, Business and Philantrophy (ICIEBP) 2017 UPI Steering Committee 2017
15 The 3rd International Conference on Education in Muslim Society (ICEMS) “Education in 21st Century: Knowledge, Professionalism, and Values” UIN Presenter 2017
16 Quality Assurance in Education Faculty Of Education Charles University,Prague, Czech Republic Participated 2017

IV. PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
No Nama Kegiatan Tempat Tahun
1 Pengabdian pada Masyarakat “Penyuluhan Kewirausahaan di Kelurahan Sarijadi” Biaya rutin. Bandung 2002
2 Pengabdian pada Masyarakat “Penyuluhan Kewirausahaan bagi Usaha kecil di Kelurahan Taman Sari”, Anggota. Dana rutin. Bandung 2003
3 Pengabdian pada Masyarakat, ”Lokakarya Penyusunan Pedoman Penelitian Bagi Guru-guru SMU se Kota Cimahi, Bandung Bandung 2004
4. Pengabdian pada Masyarakat “Pelatihan strategi membaca untuk percepatan penuntasan buta huruf bagi masyarakat dalam menunjang wajar dikdas 9 tahun, di desa Pamekaran Soreang Bandung Bandung 2007
5. Pengembangan Sistem Kearsipan Berbasis Komputer pada Laboratorium Kesekretarisan Program Studi Manajemen Perkantoran Bandung Ketua 2008
6. Pengembangan Sistem Kearsipan Berbasis Komputer Lanjutan pada Laboratorium Program Studi Manajemen Perkantoran Bandung Ketua 2009
7 Penyuluhan Administrasi Perkantoran Bagi Staf Dan Aparat Kelurahan Cihanjuang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat Bandung Anggota 2009
8. Pelatihan Microsoft Office bagi Guru-guru dan Karyawan SMK Pasundan 3 Kota Bandung, November 2010 Narasumber 2010
9. Pelatihan Microsoft Office & Excel Bagi guru dan tenaga administrasi SMK Puragabaya Peserta 2011
10 Instruktur Pendalaman Materi Otomatisasi Perkantoran PLPG SMK Rayon 110 UPI (3 gelombang) Instruktur 2012
11 Pelatihan Otomatisasi Dokumen Kantor Aplikasi Office dan Google Doc bagi Guru-guru SMK Keahlian Administrasi Perkantoran Se Kabupaten Purwakarta Panitia 2013
12 Peningkatan Kompetensi
Pemilik Usaha Kecil Menengah (UKM)
Dalam Pengembangan Usaha Berbasis Analisis Studi Kelayakan Bisnis Anggota 2014
13 Peningkatan Kompetensi Pemilik Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam Pengembangan Usaha berbasis Analisis Studi Kelayakan Bisnis Ketua 2015
14 Pengembangan Kompetensi Manajerial bagi Pemilik UKM di Kota Bandung Ketua Tim Pengusul 2014
15 Pembinaan Kewirausahaan melalui Pemberdayaan Mahasiswa Pascasarjana dalam Meningkatkan Kemandirian Ketua Tim Pengusul 2015

KOMUNIKASI ORGANISASI DI ERA DIGITAL Pengaruh Digitalisasi di Dunia Akademis dan Praktis